Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Iklan

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Cinta Datang, Pergi Dan Kembali  — Bab 1

Hari itu Kakak dan Adik perempuanku mengajak ku pergi berbelanjar oleh-oleh ke sebuah supermarket yang ada di kota Medan. Di Krakatau ujung lebih tepatnya. Aku setuju saja, karna memang banyak barang yang aku butuhkan.

Kami berbelanja dengan tenang, meskipun saat itu aku sedang PMS, yang terkadang sangat sulit mengontrol emosi. Namun, sayangnya ketenangan itu tergangu saat ada seseorang yang tak kukenal menabrak tubuhku dengan kuat.

Aku, orang itu dan Semua barang yang ada di kerangjangku dan miliknya jatuh berceceran mengelilingi kami berdua yang sedang mengaduh kesakitan. 

Aku masih mengaduh kesakitan, akibat bokong tak seberapaku mencium lantai tanpa pertahanan, saat mendengan orang yang menanbraku mengupat ke arahku. 

“Woy kalau jalan liat-liat dong. Jangan main tabrak aja, Kau kira ini tempat nenek moyang kau!”

Hati ku panas mendengar ucapan orang itu. Apalagi ada beberapa pasang mata yang memandang ke arah kami ingin tahu. “Eh enak aja seharusnyakan aku yang marah, aku korban disini. Kenapa sekarang aku seolah jadi tersangka.” Ucapku kemudia ikut tersulut emosi. 

Aku sudah bilang kan kalau aku sedang PMS. Tak akan sulit memancing emosiku di saat seperti ini. 

“Cih. Udah salah, ngak mau ngaku.” Panas hatiku semakin di buat panas saat mendengar ucapan itu. 

Aku manarik nafas secara memburu dengan memberi tatapan tajam pada orang di depanku. Namun karna itu juga tak berhasil meredakan debaran di hati, akibat emosi yang meluap tinggi, aku langsung melempar barang yang ada di sekitarku. 

Tak disangka orang itu balas melempar ku dengan barang yang ada di sekitarnya juga. Entah bagaiman ceritanya, kami berdua sudah berperang saling lempar barang dengan suara-suara umpatan dariku dan orang itu. Saat itu banyak orang yang berteriak menyuruh kami berhenti namun, tak ada yang mau mengalah di antara kami berdua. 

Batu di lawan dengan batu. Apa yang akan terjadi ?

“STOP.”

Satu teriakan dengan kuat membuat ku dan orang itu menghentikan aksi gila kami berdua. Kami berdua sama-sama manarik nafas panjang dengan saling memberi tatapan tajam satu sama lain, sebelum membuat muka ke arah lain. “Dasar kalian ini.” Ucap orang itu membut aku sedikit melirik  siapa orang yang menghentikan kami tadi. 

Ternyata securty, terlihat dari pakaian yang di kenakan dan juga bebepa orang lainya yang memakai pakaian kantoran. Mampus kalau itu  pemiliknya. Batinku saat itu. 

“Kalian berdua ikut saya.” Titah orang yang berpakaian rapih ala kantoran itu pada kami berdua. Wajahnya mengerihkan dengan jangut tebal dan kumis yang sama tebalnya itu, membuat aku tak berani menolak, sama seperti lawanku tadi yang sepertinya sependapat denganku kali ini. 

Kami mengekori orang itu di belakang dengan sesekali saling sebeng satu sama lain. Sampai lawanku tadi mengalah dan berjalan sedikit di belakangku, saat itu aku tersenyum bangga karna berhasil melawanya kali ini. 

Kami di suruh masuk ke dalam ruangan 4×5 yang rapih. Ada beberapa kursi dan dua komputer di atas meja. Di sudut ruangan juga ada sofa santai.  Kalau tak salah ingat tadi aku sempat membaca di pintu jika ini ruangan mananger sepermarket ini. Aku duduk di ujung sofa dan lawanku tadi juga ikut duduk di sudut sofa satunya lagi. Kami diam menanti Mananger menyeramkam itu mengeluarkan suara. 

Lama kami duduk di sana, tapi mananger itu tak juga bersuara. Bokongku mulai panas, membuat duduk ku tak nyaman. “Aku ada dua pilihan .” Aku langsung kembali duduk dengang tengan saat mendengar Mananger itu bersuara.

“Mau ganti rugi secepatnya atau masuk penjara?”  Aku dan lawanku tadi tersentak kaget mendengar ucapan orang itu.

“Tapi Pak Aku ngak salah.” Kami menjawab bersamaan. Sepertinya kami berdua tidak ada yang mau di salahkan.  

“Saya ngak mau tau.” Kami berdua terdiam mendengar bentakan dari manager itu. Aku takut, hingga aku sedikit mengedik ngerih menatap ke arah Mananger tersebut. 

Tak bisa terbanyangkan olehku masuk penjara di usiaku yang masih sangat muda ini. Tidak terlalu mudah sih, aku sudah lukus SMA. Tapi tetap saja aku masih mudah dan tak ingin menghabiskan masa mudaku di dalam penjara yang sangat kutakuti melebihi rasa takutku pada Kakak perempuanku. 

“Mana kartu indentitas kalian?” Mananger itu menyodorkan tanganya pada kami berdua. Aku menoleh sana sini panik.

“Ini pak kartu identitas saya!” Lawanku tadu menyodorkan KTP miliknya pada mananger tersebut. Melihat itu jantungku semakin berdetak kencang. 

“Arya Respati. Tinggal di Depok bagian utara. Usia 23 tahun.” Seru mananger itu membaca biodata singkat tentang cowok di sampingku. 

Aku tadi sudah bilang tidak sih jika lawanku tadi seorang cowok dengan tinggi badan yang ku perkirakan setinggi Adipati Dolken dan juga memiliki tubuh sebesar Jafri Nachole. Keren sih apalagi dia memiliki kulit coklat khas cowok yang suka main di matahari. Dan nilai plus cowok itu juga memiliki tubuh yang wanggi. Wangginya segar pula, tidak yang menyengat dan membuat hidung sakit. 

Hanya satu nilai minus cowok ini yang menghancurkan semua kelebihanya. Cowok ini rese, resenya pake banget lagi. 

“Kamu kerja atau kuliah?” Pertanyaan mananger itu membuat aku tersadar jika sedari tadi mataku memandang penuh nilai ke arah cowok yang duduk di sampingku ini. Aku jadi malu, malu karna melakukan hal bodoh tadi.

“Belum Pak. Belum ada yang cocok.” Mananger itu menganguk mendengar ucapan dari cowok di sampingku. Arya, kalau tidak salah namanya tadi itu.

“Punya kamu mana?” Aku kembali gelagepan mendengar pertanyaan mananger itu yanh kini di arahkan padaku. Mampus aku kan saat itu tak membawa kartu indentitas.

“Ketingalan di rumah Pak.” Jawabku akhirnya. Hah lebih baik jujur, percuma juga jika aku berbohong. 

“Apa kamu ngak tau kalau kartu indentitas itu sangat penting?”

“Tau Pak .”

“Terus kenapa kamu tinggal. Kalau kamu kenapa-napa di jalan, kemana para polisi membawa jenazah kamu.”